“Do you believe in parallel universe? maybe in that universe, we are together”
“Adolescence is like a heavy rain. Even though you catch a cold...
Simon Beck creates gigantic snow artworks using only his feet.
Old, but I wanted to bring this back.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat malam teman-teman. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan teman-teman untuk saya berdiri di sini.
Seperti yang sudah teman-teman dengar, mungkin di forum-forum lain atau di dunia maya, bahwa saya berencana untuk menggenapkan setengah agama dalam waktu dekat. Karena itu, melalui forum ini saya mengundang keluarga besar Psikologi Unpad 2011 tanpa terkecuali untuk hadir pada akad nikah saya, pada hari Sabtu tanggal 18 Mei 2013, bertempat di Pusdai.
Bagi sebagian orang-orang mungkin kabar ini mengejutkan. Ada yang bertanya, “Urfa mau nikah? Emangnya Urfa pacaran?” saya tertawa saja sambil menjawab, “Memangnya kalau ngga pacaran ngga bisa nikah?”
Intinya, banyak yang tidak menyangka bahwa saya akan mengambil keputusan besar ini begitu cepat. Ya, memang saya juga tidak menyangka akan menjalani proses ini secepat ini, tapi bukankah hidup ini memang seringnya diluar sangkaan kita?Menjalani proses ini dari awal hingga sekarang, jujur saja, membuat saya semakin percaya bahwa ada kekuatan besar diluar diri kita, di luar rutinitas yang kita lakukan setiap hari, yang sudah meng-organizehidup kita sedemikian rapinya. Termasuk tentang siapa dan kapan. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk selalu melibatkan Tuhan dalam setiap perbuatan kita. Mungkin pada awalnya kita bertanya-tanya, “Kenapa Tuhan melakukan ini pada saya?” Tapi di akhir kita akan tersenyum menyadari bahwa, “Oh, ternyata ini toh maksud Allah melakukan ini kepada saya.” Sama seperti apa yang saya alami.
Saya mengenal pria ini cukup lama. Lebih lama dari saya mengenal teman-teman. Tapi selama waktu tersebut, kami berelasi seperti biasa. Saya di sini dengan aktivitas saya, dia di sana dengan aktivitasnya. Sampai ternyata kami dipertemukan lagi pada takdir yang seperti ini. Membuat saya berujar, “Oh, jadi ini toh maksud Allah mempertemukan kami sekian tahun yang lalu”
Memang, kalau dipikir-pikir, menikah itu banyak risikonya Tanggung jawab bertambah, saya disamping harus kuliah, juga harus mengurus suami dan rumah tangga, sehingga wajar saja jika kita ragu menghadapinya. Tapi saya selalu berkata begini, “Pernikahan bukan hanya untuk dipikirkan apalagi hanya dibicarakan, tapi juga untuk dipersiapkan.”
Bicara tentang persiapan, mungkin tidak ada orang yang merasa 100 % siap jika ditanya sudah siap atau belum. Tapi, bagi saya, karena saya sudah berniat di awal, bahwa saya ingin beribadah, maka selanjutnya saya merasa ada kekuatan yang membuat saya melanjutkan proses ini.
Kemudian saya akhir-akhir ini mendapat banyak pertanyaan. Baik dari teman-teman di sini maupun teman-teman di luar. Dalam kesempatan ini saya ingin menjawab satu pertanyaan saja, yaitu tentang, “Darimana kamu tahu kalau dialah orang yang tepat?”
Urusan hati dan perasaan memang tidak mudah untuk dirumuskan. Apakah mesti diberi psikotes dulu atau bagaimana? Menurut saya ya tidak perlu. Kita punya detektor yang lebih baik, yaitu hati kita sendiri.
Ini subjektif ya, tapi menurut saya ini tentang keberadaan faktor X. Saya melihat faktor X pada diri pria ini. Ada milyaran manusia di dunia ini, dan satu di antaranya memiliki faktor X yang kita cari. Maka perjalanan dan pengembaraan adalah proses yang penting.
Dalam hal ini saya juga banyak belajar dari sebuah analogi. Teman-teman masih ingat dengan ikatan ionik dan kovalen? Dulu waktu mempelajarinya di SMA saya hare-hare, tapi setelah saya tahu maknanya yang lebih dalam, saya malah ingin mempelajarinya lagi.
Oke, jadi perbedaan dua ikatan itu sederhananya seperti ini, ikatan ionik terbentuk atas dasar perbedaan muatan elektron. Muatan positif dan negatif. Contohnya NaCl. Na memiliki muatan +1, Cl -1. Na lebih sekian, Cl kurang sekian, maka berikatanlah mereka. Tapi ikatan ionik relatif lebih mudah untuk dipisahkan. Insight-nya, ketika sebuah ikatan dibentuk atas dasar “Saya punya kelebihan ini..saya punya kekurangan ini..” ya mungkin bisa berikatan, tapi tidak akan sekuat ikatan yang dibentuk secara kovalen.
Ikatan kovalen terbentuk karena adanya proses berbagi elektron valensi. Contohnya Hidrogen (H2). Unsur H memiliki satu elektron valensi. Tapi H bukan apa-apa jika hanya sendiri, dia tidak bisa stabil, dia tidak lebih berguna dibanding dengan jika dia berikatan dengan H lain dan membentuk H2. Dengan membentuk H2, kedua unsur hidrogen itu menjadi stabil dan bisa berguna. Dan ternyata, ikatan kovalen ini lebih kuat daripada ikatan ionik.
Dari fenomena itu, saya mengambil pelajaran bahwa dalam menjalin sebuah relasi, entah pertemanan, bisnis, atau dalam hal ini pernikahan, ada baiknya kita meneladani ikatan kovalen. Jika kita hanya mengandalkan kelebihan-kelebihan yang aku-dan-dia punya, kita menyukainya karena ganteng, kaya, pintar, untuk menjalin sebuah relasi, maka mungkin pertahanannya tidak akan terlalu kuat. Analog dengan ikatan ionik tadi.
Namun jika kita berelasi atas kesadaran bahwa kita tidak bisa stabil jika sendirian. “Saya tidak stabil tanpa dia, dia tidak stabil tanpa saya.” kemudian kita berbagi sehingga bisa hidup bersama-sama, analog seperti ikatan kovalen tadi, insya Allah ikatannya terjaga lebih kuat. Contohnya seperti botol dan tutupnya. Botol, sebesar apapun, tidak bisa berfungsi secara sempurna jika hanya sendiri, tanpa tutupnya. Sementara itu tutup botol, kecil, dan tidak berguna jika hanya sendirian. Tapi jika dia ‘berikatan’ dengan botol, membentuk botol yang sempurna, maka keduanya berguna. Saling berbagi, menjadi stabil, dan berguna.
Dan itulah yang saya coba teladani.
Baiklah, terima kasih teman-teman sudah mau menyimak ‘kuliah singkat’ dari saya. Sekali lagi, saya mengundang teman-teman untuk hadir pada tanggal 18 Mei. Saya harap teman-teman bisa hadir sejak akadnya, karena esensi dari pernikahan terletak pada akad nikahnya. Di mana pada saat itu ada pengucapan dua kalimat ajaib, yaitu ijab kabul. Sebuah kalimat yang bisa mengubah hidup kita dalam sekejap. Dari yang bukan siapa-siapa, menjadi teman tidur kita sepanjang hidup. Ajaib. Dan dalam agama saya dikatakan bahwa ketika seorang laki-laki mengucapkan “Saya terima nikahnya…” maka seketika arsy-Nya berguncang, saking luar biasanya peristiwa tersebut. Bukan hanya tentang perjanjian antara Ayah dan seorang pemuda, melainkan perjanjian antar seorang hamba dengan Tuhannya.
Saya memohon doa agar semua persiapan dilancarkan, terutama agar kehidupan kami setelah 18 Mei menjadi lebih baik.
Saya juga memohon maaf kepada teman-teman, terutama teman-teman kelompok manajemen, eksperimen lanjutan, Trimagz, dan kelompok lain yang saya terlibat di dalamnya, karena belakangan ini sering kehilangan saya. Karena saya juga tengah mempersiapkan beberapa hal lain untuk hari H. Mungkin satu bulan ini saya juga masih harus mempersiapkan banyak hal. Untuk itu saya memohon bantuan dari teman-teman semua.
Saya juga berdoa untuk kesuksesan kita bersama. Semoga ujian-ujian kita dilancarkan, semoga tahun ini kepanitiaan-kepanitiaan yang kita pegang bisa sukses.
Terakhir, saya memandang sebuah proses sebagai hal yang penting, untuk itu kepada teman-teman saya ingin mengucapkan selamat menikmati perjalanan menemukan dan ditemukan cinta sejati. Hargai perjalanan ini dengan sama-sama menjaga kehormatan diri.
Sekian, Wassalamu’alaikum.
*disampaikan pada Forum Angkatan 2011 hari Jumat, 06 April 2013 pukul 18.50-an.
The cruelest part of “growing up” is that girls are always mature than guys of the same age. No guys can handle girls of their age.